Beranda » Uncategorized » WAHDATUL WUJUD

WAHDATUL WUJUD

 

PENGEMBANGAN MAKALAH

 

BIMBINGAN DAN KONSELING ISLAM II

 

Tentang

WAHDAT AL-WUJUD

 

 

Oleh

 

 

M. Rusdi

                                                                BP. 409.272

 

 

Dosen Pembimbing

Dr. H. Gusril Kenedi, M. Pd

 

 

JURUSAN MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM (MPI)

FAKULTAS TARBIYAH

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)

IMAM BONJOL PADANG

T.A 2012 M/ 1433 H

 

KATA PENGANTAR

 

 

Assalamuilaikum wr.wb

Puji dan syukur diucapkan kepada Allah Swt, yang telah memberikan rahmat dan petunjuk-Nya, sehingga  telah dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik dan lancar. Shalawat dan Salam juga tidak lupa  diucapkan kepada Nabi Muhammad Saw, sebagai Uswah dalam kehidupan, juga kepada keluarga, dan pengikutnya sampai akhir zaman.

 

         Dalam penyelesaian pengembangan makalah ini tidak terlepas dari bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak, terutama dosen pembimbing mata kuliah Bimbingan Konseling Islam II (BKI II) yakni bapak Dr. H. Gusril Kenedi, M. Pd, hingga selesainya makalah ini dengan baik. Ucapan terima kasih kepada teman-teman  serta juga kepada semua pihak  yang telah berkonstribusi hingga terbitnya makalah ini.

 

         Sepenuhnya penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh kesempurnaan keilmiahannya, untuk itu sangat diharapkan kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun, sehingga kedepannya lebih baik lagi, sebelumnya  diucapkan terima kasih.

         Wassalamualaikum wr.wb

 

 

                                                                                               Padang, 05 Januari 2012

 

                   

 

                                                                                                                        Penulis

 

 

 

 

 

DAFTAR ISI

 

KATA PENGANTAR………………………………….. …

DAFTAR ISI……………………………………………..         ..

BAB  I        PENDAHULUAN …………………………

BAB  II       PEMBAHASAN……………………………

2.1 Pengertian dan Konsep Dasar Tentang

      Wahdat Al-Wujud…………………………………………..

2.2 Sejarah Lahirnya Paham Wahdat Al-Wujud………

2.3 Konsep Manusia yang Sehat dan Sakit

      Menurut Paham Wahdat Al- Wujud…………………….

2.4 Implikasi Paham Wahdat Al-Wujud

      Dalam Konseling…………………………………………….

BAB  III     PENUTUP 

                        3.1 Kesimpulan………………………………………..

                        3.2 Saran……………………………………………….

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

BAB  I

PENDAHULUAN

 

Suatu kajian Tasawuf yang bertujuan untuk mendekatkan diri seorang hamba kepada Allah Swt ialah mengenai wahdat al-wujud (kesatuan wujud). Diakui secara luas bahwa pendiri paham wahdat al-wujud adala sufi terkemuka, Ibnu ‘Arabi (lahir di Murcia, Andalusia pada 560/1165 dan wafat di Damaskus, Syam, pada 638/1240). Diantara pengajaran Ibnu ‘Arabi tentang Tuhan dan alam adalah bahwa Allah (Tuhan) itu mawjud (ada) dengan dzat-Nya dan karena dzat-Nya sendiri. Dia adalah wujud yag mutlak, tidak terbatas oleh yang lain, bukan ma’lul (akibat) dari sesuatu, bukan pula ‘illah (sebab) bagi sesuatu. Dia adalah pencipta bagi sebab-sebab dan akibat-akibat. Jadi, wahdat al-wujud adalah pengakuan bahwa hanya ada dzat tunggal saja, dan tidak ada yang mewujud selain itu.

 

Demikian sekilas gambaran tentang paham wadat al-wujud, untuk dapat mengetahui sejumlah ajaran atau ungkapan-ungkapan  penting dari ‘Ibnu ‘Arabi yang mengandung atau erat kaitannya dengan kesatuan wujud, maka akan penulis paparkan pada bab pembahasan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

2.1 Pengertian dan Konsep Dasar Tentang Wahdat Al-Wujud

            Kata “wahdat al-wujud” berarti kesatuan wujud. Dalam kata bahasa Inggris unity of existence. Sebagai pokok persoalan” wahdad al-wujud” adalah yang sebenarnya berhak mempunyai wujud hanyalah satu, yaitu Tuhan. Dan wujud selain dari Tuhan adalah wujud bayangan.[1]

 

            Konsep dasar pertama dari filasafat Ibnu al Arabi adalah pengakuan bahwa hanya ada Zat Tunggal saja, dan tidak ada sesuatu yang mewujud selain itu. Istilah Arab untuk mewujud adalah wujud, yang dapat disamakan dengan keperiadaan (eksisten).[2] Ada lima tahapan dalam proses pengaturan diri dari zat yang biasa dikenal hadrat khams, yaitu:

  1. Tahap pertama

Zat dengan pengaturan dirinya adalah mutlak tunggal (ahad). Pada tahap ini zat disebut sebagai Ahadiyyah, kesatuan mutlak.

  1. Tahap kedua

Wahdah atau ketunggalan, yakni ketika perbedaan batini muncul dalam zat. Ini terjadi manakala zat mengada pada diri sendiri dari diri sendiri, (yaitu pada) gagasan-gagasan tentang segala sesuatu yang muncul dari dunia dimasa depan.

  1. Tahap ketiga

Wahidiyah atau kesatuan, yakni ketika zat menentukan sendiri eksistesialitas dalam objek-objek berkenaan dengan prototipe idealnya yakni a’yan tsabitah.

  1. Tahap keempat

Penentuan yang dikhususkan dari zat didalam jiwa yang disebut ta’ayun ruhi,yaitu penentuan rohaniah; dalam bentuk simbolis disebut ta’ayun mitsali atau penentuan simbolis.

  1. Tahap kelima

Ta’ayun jasadi atau penentuan jasadi. Penentuan eksistensial adalah tertentu, sebagaii kebalikkan dari penentuan idel yang tidak-terbatas.[3]

            Diantara pengajaran Ibnu ‘Arabi tentang Tuhan dan alam adalah bahwa Allah (Tuhan) itu mawjud (ada) dengan dzat-Nya dan karena dzat-Nya sendiri. Dia adalah wujud yag mutlak, tidak terbatas oleh yang lain, bukan ma’lul (akibat) dari sesuatu, bukan pula ‘illah (sebab) bagi sesuatu. Dia adalah pencipta bagi sebab-sebab dan akibat-akibat. Dia adalah raja Kudus yang senatisa ada.[4] Konsekuensi dari dokrin Zat Tunggal (wahdat al-wujud) seperti yang dikemukakan oleh Ibnu ‘Arabi diatas adalah bahwa segala subjek dari setiap prediket adalah Tuhan, bahkan apabila subjek yang nampak adalah berbeda, sebagai zat manusia ataupun bukan manusia. Tuhan adalah yang mengetahui dan yang diketahui, yang maha kuasa, dan objek kekuasaan, yang berkehendak dan yang dikendaki, penggerak dan yang digerakkan, dan lain-lainnya. Ibnu arabi menukilkan dalam sebuah syairnya yaitu;

 

Wahai pencipta segala sesuatu dalam diri-Mu, pada-Mu terhimpun segala yang Engkau jadikan, Engkau ciptakan apa yang ada dengan tidak terbatas dalam diri-Mu sebab Engkau adalah yang unik tetapi meliputi seluruhnya

 

2.2 Sejarah Lahirnya Paham Wahdat Al-Wujud

            Paham ini merupakan perluasan dari paham hulul, yang dibawa oleh Muhyi al-Din Ibn Arabi kelahiran Spanyol pada tahun 560 H. Dan meninggal pada tahun 638 H di Damaskus.[5] Paham wahdad al-wujud diajarkan oleh Muhy Al-qin ibnu Arabi. Dia lahir dikota Murcia Spanyol pada tahun 1165 M. Ibnu Arabi belajar di Seville, kemudian setelah selesai pindah ke Ruris. Disana ia mengikuti dan memperdalam aliran sufi. Menurut pemikiran tasawufnya, bahwa Tuhan ingin melihat diri-Nya dari luar diri-Nya maka dijadikan-Nya alam, alam merupakan cermin bagi Tuhan. Pada benda-benda yang ada dalam alam karena esensinya ialah sifat keTuhanya, Tuhan melihat diri-nya. Dari sini timbul faham kesatuan wujud. Yang banyak dalam alam ini hanya dalam penglihatan banyak, pada hakekatnya itu semua adalah satu.

 

            Dikatakan paham ini merupakan perluasan dari konsepsi al-hulul adalah karena nasut yang ada dalam hulul ia ganti dengan khalq (makhluk), sedang lahut menjadi al-haqq (Tuhan). Khalq dan al-Haqq adalah dua sisi bagi sesuatu, dua aspek yanga ada pada segala sesuatu. Aspek lahirnya disebut Khalq dan aspek batinnya disebut al-aqq. Dengan demikian segala sesuatu yang ada ini mengandung aspek lahir dan aspek batin atau terdiri dari ‘ard dan jauhar. Aspek khalq atau apek luar memiliki sifat kemakhlukan atau nasut sedangkan aspek batin atau al-haqq memiliki sifat keTuhanan atau lahut.

 

            Tiap –tiap yang begerak tidak terelpas dari kedua aspek itu, yaitu sifat ke-Tuhannan dan sifat kemanusiaan. Tetapi aspek yang terpenting ialah aspek batinnya atau aspek al-haqq dan aspek ini merupakan hakikat/esensi dari tiap-tiap yang wujud. Orang-orang Orientelis megatakan bahwa paham ini adalah pantheistik tetapi sebenarnya ada perbedaan yang mendasar antara wahdatul wujud dengan pantheisme.

 

2.3 Konsep Manusia Yang Sehat Dan Sakit Menurut Paham Wahdat Al- Wujud

  1. Konsep Manusia Yang Sehat Menurut Paham Wahdat Al-Wujud

                        Manusia adalah hamba Tuhan karena Tuhan telah ber-illusinasi secara dzatiyah pada manusia sehingga manusia adalah dzat Tuhan, karena kejadiannya yang demikian itu ia disebut insan kamil atau nuskhat Ilahi. Sedangkan manusia lain hanya menerima pancaran tajalli saja, sehingga hanya beberapa aspek yang sama dengan Tuhan. Hingga ia sampai pada suatu keadaan yang memungkinkannya untuk dapat melihat, mendengar dan berbicara melalui Tuhan serta bersama Tuhan, artinya ia telah diberi Tuhan suatu kemampuan yang sama dengan Tuhan, sehingga seluruh perilakunya ialah atas nama Tuhan. Dari konsep diatas, jika dijalankan oleh manusia, maka dapat dikatakan bahwa manusia itu telah sehat.

 

                        Insan kamil adalah esensi kecemerlangan cermin alam. Insan kamil adalah dua citra, yang pertama kedudukannya sebagai manusia baru, dan kedua kedudukannya sebagai manusia abadi. Dengan demikian, menurut ajaran ini insan kamil (manusia yang sehat) adalah manusia yang baru dan abadi. Dalam hal yang sama, nampaknya gambaran manusia dalam tasawuf Ibnu Arabi adalah manusia adan makhluk tersempurna dalam hubungan dengan kualitas kejadian dan kualitas kemampuan dan kefungsian. Konsep ini memperlihatkan, bahwa setiap manusia memiliki otonomi pribadi dan kemampuan untuk meningkatkan jati dirinya ketingkat yang menyerupai Tuhan. Hal ini berarti, bahwa setiap orang terbuka kemungkinan dan peluang untuk mencapai kualitas insan kamil melalui proses sufistis.

 

 

  1. Konsep Manusia Yang Sakit Menurut Paham Wahdat Al-Wujud

                        Manusia yang sakit dalam pandangan  ajaran tasawuuf wahdat al-wujud ini adalah manusia yang tidak tahu tujuan Tuhan menciptakan alam dan dirinya sendiri, kata Ibnu Arabi adalah agar ia bisa melihat diri-Nya sendiri dalam bentuk yang dengan itu nampak jelas Asma dan sifat-Nya. Kesadaran manusia bahwa ada wujud Tuhan esensial di alam ini tidak menyentuh hatinya bahkan mengingkari keyakinan akal sehatnya.

 

2.4 Implikasi Paham Wahdat Al-Wujud Dalam Konseling

            Setelah dipaparkan pengertian, konsep dasar, sejarah dan juga konsep manusia yang sehat dan sakit dari pandangan tasawuf Ibn Arabi diatas, maka juga dapat dikaji dalam ilmu konseling. Keterkaitan konsep wahdat al-wujud (kesatuan wujud) yang bertujuan agar manusia menjadi insan kamil melalui proses sufistis dengan seorang klien yang datang kepada konselor ialah konsep penenangan diri dalam rangka menemukan masalah yang ia alami supaya menjadi manusia yang mandiri dan terbebas.

 

            Wahdat al-wujud sebagai sebagai suatu ilmu mempunyai metode, dengan metode itulah fungsi dan tujuan serta aplikasi yang esensial dari ilmu ini dapat tercapai dengan baik, benar dan ilmiah. Terhadap seorang konselor, pemahaman yang dapat ia diterapakan dalam membantu kliennya, maka ia harus mempunyai keyakinan yang dapat diraih melalui: ilmul yaqin, ‘ainul yaqin, haqqul yaqin serta kamalul yaqin.[6]         

 

          Adapun prinsip-prinsip yang dapat dipahami dalam tasawuf Ibn Arabi ini dalam pelaksanaan konseling maupun psikoterapi Islam ialah prinsip tauhid, prinsip tawakal, prinsip syukur, prinsip sabar, prinsip sabar, prinsip taubat nasuha, prinsip hidayah allah dan prinsip zikrullah.[7] 

 

            Sesuai dengan konsep manusia yang sakit atau bermasalah dalam pandangan tasawuf wahdat al-wujud ini, maka klien dapat dipahami bermasalah tentang bagaimana cara berfikir dan berperilaku yang Qurani, namun pada prosesnya, justru sang klien lebih banyak mengarah kepada perdebatan. Untuk mengatasi klien yang seperti ini, “teori mujadalah bil ahsan sangat tepat, yaitu memberikan bimbingan dengan menggunakan bantahan dan sanggahan yang mendidik dan menentramkan. Prinsip-prinsip yang khas dan  dapat di impilikasikan dari teori ini adalah sebagai berikut:

1)      Harus ada kesabaran yang tinggi dari konselor.

2)      Konselor harus menguasai akar permasalahan dan tarapinya dengan baik.

3)      Saling menghormati dan menghargai.

4)      Bukan bertujuan menjatuhkan atau mengalahkan klien, tetapi membimbing klien mencari kebenaran.

5)      Rasa persaudaraan dan penuh kasih sayang.

6)      Tutur kata dan bahasa yang mudah dipahami dan halus.

7)      Tidak menginggung perasaan klien.

8)      Mengemukakan dalil-dalil Al-Quran dan As-Sunnah dengan tepat dan jelas.

9)      Ketauladanan yang sejati. Artinya apa yang konselor lakukan dalam proses konseling benar-benar telah dipahami, diamplikasikan dan dialami konselor.[8]

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

            Dari penjelasan tentang materi diatas yang berkaitan dengan wahdat al-wujud (kesatuan wujud) dari paham tasawufnya Ibn ‘Arabi, maka dapat disimpulkan sebagai berikut; Wahdat al wujud adalah pengakuan bahwa hanya ada dzat tunggal saja, dan tidak ada yang mewujud selain itu. Sejarah lahirnya paham wahdat al-wujud ini merupakan perluasan dari paham hulul, yang dibawa oleh Muhyi al-Din Ibn Arabi kelahiran Spanyol pada tahun 560 H. Paham wahdad al-wujud diajarkan oleh Muhy Al-qin ibnu Arabi. Dia lahir dikota Murcia Spanyol pada tahun 1165 M. Ibnu Arabi belajar di Seville, kemudian setelah selesai pindah ke Ruris. Disana ia mengikuti dan memperdalam aliran sufi. Menurut pemikiran tasawufnya, bahwa Tuhan ingin melihat diri-Nya dari luar diri-Nya maka dijadikan-Nya alam, alam merupakan cermin bagi Tuhan.

              Konsep manusia yang sehat menurut tasawuf ini ilaha manusia yang sudah mencapai  dejarat insan kamil dan sebaliknya manusia yang sakit ialah manusia yang ragu terhadap sang penciptanya. Implikasinya dalam konseling dapat dilakukan konselor berupa pemberian keyakinan yang kuat kepada klien dengan cara menerapkan teori atau teknik yang Islami seperti diatas.

 

3.2 Saran

Demikialah makalah ini dibuat dengan sebagaimana mestinya, namun dari itu semua juga tidak terlepas dari saran dan kritikan yang membangun dari pemabaca yang budiman untuk penyempurnaan keilmiahan makalah  ini dimasa yang akan datang. Besar harapakan penulis semoga makalah ini bermamfaat bagi kita semua.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Dahhlan Aziz Abdul, Penilaian Teologis Atas Faham Wahdat Ala-Wujud Tuhan Alam Manusia, Padang: IAIN IB Press, 1999

Bakran Adz-Dzaki Hamdani , Konseling Dan Psikoterapi Islam, Joyakarta: Fajar Pustaka Baru, 2006

Ansari Abd Haq Muhammad , Antara Sufisme Dan Syari’ah (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1993

Mustofa, Akhlak Tasawuf, Bandung: CV. Pustaka Setia, 1999

Siregar Rivay, Tasawuf Dari Sufisme Klasik Ke Neo Sufisme, Jakarta: PT.Raja Grafindo Persada, 1999

Daradjat Zakiah, Psikoterapi Islami, Jakarta: PT.Bulan Bintang, 2002


[1] Mustofa, Akhlak Tasawuf, (Bandung: CV. Pustaka Setia, 1999) h.275

[2] Muhammad Abd. Haq Ansari, Antara Sufisme Dan Syari’ah (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1993) Cet.2 h.149-150

[3] Ibid h. 150-151

[4] Abdul Aziz Dahlan, Penilaian Teologis Atas Faham Wahdat Ala-Wujud Tuhan Alam Manusia, (Padang: IAIN IB Press, 1999) Cet. 1 h.37

[5] Rivay Siregar, Tasawuf Dari Sufisme Klasik Ke Neo Sufisme,(Jakarta: PT.Raja Grafindo Persada, 1999) cet-1 h.182-183

[6] Hamdani Bakran Adz-Dzaki, Konseling Dan Psikoterapi Islam, (Joyakarta: Fajar Pustaka Baru, 2006) cet-5 h.254-256

[7] Zakiah Daradjat, Psikoterapi Islami, (Jakarta: PT.Bulan Bintang, 2002) cet-1 h.129-139

[8] Op Cit, Hamdani Bakran, h.205

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s